Kabar di Malam itu

Breast Cancer

Saya masih ingat, 5 bulan yang lalu tepatnya bulan Maret 2013. Saat itu hari tidak terlalu special, berjalan seperti biasanya. Dan seperti hari-hari sebelumnya sebelum tidur, saya dan istri selalu ngobrol. Tapi ada yang berbeda dari obrolan istri malam itu, malam itu dia mengaku bahwa sekarang di payudaranya terasa ada yang salah, seperti ada sebuah benjolan kecil.

TEEEETTT Dari sana, langsung ada alert di otak saya, wah jangan-jangan ada yang salah?!. Walaupun pria tapi saya memang suka membaca artikel-artikel ilmiah dan medis, dan saya tahu bahwa salah satu tanda-tanda tumor atau kanker adalah adanya benjolan tidak normal di tubuh anda.

Saya kemudian mengajak istri untuk periksa, saya selalu berprinsip, apapun penyakitnya obatnya bukan Tolak Angin apalagi Teh Botol Sosor!! Harus diperiksa ke ahlinya titik. Tetapi istri menolak sambil berkata “I’m ok everythin is fine” dia dengan tenangnya menambahi “Mungkin ini hanya kelenjar air susu aja” tapi saya tau karakter istri saya (saya yakin sebelum istri berbicara pada saya dia sudah mencari referensi sendiri tentang penyakitnya) dan pernyataannya mengenai “everythin is fine” tidak lebih dari hanya ucapan untuk menenangkan dirinya dan hatinya sendiri. Dan memang sebagian besar wanita selalu denial / menyangkal bila berhadapan dengan penyakit ini (dan secara psikologis memang lebih mudah untuk tidak mempercayainya dan menghindar dari pada harus kemudian memeriksa dan mengetahui serta menghadapi kenyataan pahitnya). Setelah sedikit debat tarik ulur mengenai di periksa atau tidak yang mana saudarah-saudarah pada akhirnya istri yang menang, kamipun jarang membicarakannya lagi.

Pada bulan Juli kemudian kita ngobrol lagi, dan Istri baru kemudian mengaku bahwa pada bulan-bulan kemarin dia sempat memeriksakan dirinya dan masalahnya ke dokter (dan tanpa sepengetahuan saya) diagnosis awal itu adalah kelenjar air susu, karena memang pasca kehamilan air susu istri tidak keluar, kalaupun dipaksa di pompa hanya keluar beberapa tetes saja. Tapi yang kemudian mendorong istri kembali berbicara adalah karena benjolan yang disangka pembengkakan kelenjar air susu ini malah semakin besar dan terasa sakit, baik di pegang ataupun jika ada benturan kecil, selain itu juga pada benjolan di dalam payudaranya suka terasa seperti ada tusukan-tusukan (kaya jarum di tusuk ke daging) Wah dari sana saya langsung sedikit marah karena kok bisa-bisanya diperiksa ke dokter tapi tidak bilang ke suami,, (Dalam hati saya tau, istri saya takut disalahkan, karena memang pola makannya kurang sehat, ditambah keenggenannya memompa air susu agar bisa keluar). Pada saat itu yang saya pikirkan, adalah ketakutan saya,, ya ketakutan terhadap apapun penyakit yang ada di diri Istri. saya mulai berpikir, ini ada yang salah!! Kamipun berdiskusi lagi dan bahkan bertengkar, karena istri keukeuh ingin diperiksa setelah lebaran (karena memang hari itu adalah tepat satu minggu sebelum lebaran) sedangkan saya ingin secepatnya yaitu besok pagi, dan baginya itu tidak mungkin karena pekerjaan kantornya sedang sibuk-sibuknya menjelang libur lebaran, selain itu juga sulit meminta izin izin kerja pas hari H.

“Oh Please!! Orang mau check up ma berobat kok ga bisa!” kata saya ga mau mendengar alasan. Setelah pertengkaran itu kami tidak menemui kata sepakat. Kami bertengkar sampai kami masing-masing tertidur dan saling membalikkan badan. Esok paginya kami masih saling berdiam dan tidak menyapa, tapi saya tekankan sekali lagi, hari ini saya tidak mau mendengar kata “no” istri pun mengalah siang ini dia akan mengambil izin kerja ½ hari, dan kita akan memeriksakan penyakitnya ke dokter ahli.

Dari sana saya kemudian mencari informasi lagi, saya mulai menghubungi teman-teman dokter dan teman-teman perawat yang saya kenal. Suggest dari mereka adalah segera diperiksakan ke bagian onkologi untuk di mamograf. Istripun sama langsung mencari informasi kira-kira dokter mana yang akan kami tuju. Kebetulan istri dari waktu kehamilan tahun kemarinpun selalu berprinsip hanya ingin diperiksa oleh dokter wanita, sekarang pun ketika akan diperiksa sama, hanya ingin oleh dokter wanita. akhirnya kamipun mencari-cari dokter onkologi wanita di Bandung.

Akhirnya jam 10 pagi kita mendapat salah seorang dokter onkologi di sebuah rumah sakit swasta di Bandung yang akan kami tuju. Akan tetapi datang sebuah messagedari Istri saya di YM “Ab, kayaknya ga bisa periksa, orang-orang di kantor pada ga masuk karena sakit, ga mungkin hari ini ninggalin kantor”

Begitu membaca isi pesannya saya langsung protes “Orang lain sakit kok bisa, dan itu ngedadak, lho kok Umie ga bisa?!” dan YM saya pun tidak dibalas lagi.

Jam 11 siang ada pesan di YM lagi, “Ab, tadi dah izin ke pusat dan diijinin, pick me up at lunch” “Tapi bisa ga daftarin dulu ke RS nya, dokternya praktek jam 14.30 soalnya”. Dia menambahkan.

“OK” jawab saya
Saya masih ingat hari itu adalah hari Kamis, tanggal 1 Agustus 2013. Jam 11.30 siang sehabis kuliah, saya kemudian mendaftarkan istri saya ke rumah sakit tersebut (kebetulan sekali jarak antara kampus dengan rumah sakit tersebut sangat dekat), Allhamdulillah dapat nomor urut periksa pertama, Yes! beres dengan pendaftaran saya tancap gas menjemput istri saya di kantornya. Dan pada jam 14.30 kami telah duduk manis menunggu dokter tersebut di ruangannya. “Pas banget dengan jam prakteknya” ujar saya dalam hati.

Tunggu punya tunggu 30 menit pun berlalu, dokter belum nongol,, perawatnya kemudian datang dan tersenyum meminta kami untuk menunggu karena dokternya ternyata telat ke RS. Laluuuu 1 jam berlalu,, dokter belum datang dan kamipun ngobrol ngalor ngidul,,, dan pas jam 16.00 akhirnya si dokter datang dengan tergesa-gesa masuk ruang prakteknya dan barulah istri diperiksa.

VONIS ITU,,,,

Setelah selesai menanyai istri lalu mengobservasi, si dokterpun bicara pada kami “Ini bukan kelenjar air susu, kemungkinan tumor. Tapi untuk memastikannya silahkan di USG terlebih dahulu”.

Saya dapat melihat raut istri saya yang sedikit shock dan takut,, Kamipun kemudian ke lab untuk melakukan USG, Di lab saya coba menenangkan istri yang hamper menangis, “Everythin would be just fine” kata saya. Dan setelah 1 jam kami kembali lagi menemui dokter untuk memperlihatkan hasil labnya.

Melihat dari hasil USG dokterpun menegaskan “Ini tumor,,!! dan kalau dilihat dari bentuknya dandari kecepatan tumbuhnya yang baru terasa 4 bulan tapi sudah sebesar ini, ini kemungkinan ganas”

“Oh God,,,,,,”

Seketika kami tidak bisa berkata apa-apa,, dunia terasa runtuh. Hal yang kami takutkan terjadi.. Ya Tuhan,,,, saya merasa seakan-akan dibanting ke tanah.
(Bersambung)

  1. Siapa nama dr onkologinya?d rs mana?trimakasih sblmnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: