AKU

Aku tenggelam dalam fantasi dan mitos, model dan konspetualisasi tentang diriku dan kehidupan. Aku membangun aktivitas dan dunia untuk diriku sendiri, disibukkan oleh pikiran dan emosiku tanpa terpengaruhi serta terlepas dari dunia materi dengan berbagai pemikiran orang lain yang saling keluar dan masuk dalam kepalaku.
Konsep diri yang merupakan aktualisasi dari logikaku sering kali berseberangan dengan kenyataan dan keadaan dunia materi. Bagaikan dua sisi koin, walaupun merupakan suatu kesatuan unsur, tetapi mereka mempunyai karakterisitik, pola dan cara tersendiri, eventhough sebenarnya masing-masing mengikuti kaedah hukum alam yang sama.
Individu mempunyai cara pengungkapan, interpretasi, pola pikir serta implementasi yang berbeda-beda yang kesemuanya terbalut dalam aktivitas mereka. Dan layaknya naluri dan memang sudah menjadi fitrah bahwa suatu saat individu tersebut akan mengikuti pola yang sama dalam kehidupannya. Seakan-akan mereka menemukan jalan setapak dan langsung mengikutinya. Tetapi fase berfikir ini, fase dimana individu mulai meninggalkan atribut dunia luar dan menenggelamkan dalam konsep diri, eksistensi kehidupan dan alam ini sering tidak disadari. Dengan besarnya anasir dari luar dan dengan tidak adanya keinginan untuk lookin within maka fase tersebut hanya akan terlewati begitu saja tanpa ada value conclusion dan pemahaman, yang terjadi kemudian adalah individu tersebut terombang-ambing dan kehilangan arah dalam pencitraan eksistensi dirinya.
Dalam proses pengaktualisasian diri, terkadang aku cenderung untuk mengingkari, menyublimasi, serta tak jarang merepresinya. Setiap individu tentu mempunyai alasannya tersendiri, tetapi hakekatnya upaya penipuan diri dengan cara pereduksian tersebut hanya akan menjadi pemicu benang kusut dan menggiringnya pada kemunduran diri, pengkaburan kedewasaan psikologis yang pada akhirnya menetapkan pola regresi.
Kehidupan dengan variasi dan kamajemukannya masing-masing menyediakan struktur kongkret yang menggoda. Bagaikan sebuah magnet besar ia menarik semua fantasi serta ekspektasiku. Kehidpuan sendiri pada dasarnya merupakan suatu tatanan yang bersifat abstrak dan netral, tetapi materi di dalamnyalah yang kemudian memberikan corak yang pada akhirnya melahirkan sebuah kebudayaan dan peradaban. Tetapi seperti yang dikatakan Rosseau “Peradaban modern sekalipun akan mengasingkan warga dari mereka sendiri, peradaban itu mengembangkan dan memperdalam pengasingan diri…”
Lingkungan dimana aku berada tidak dipungkiri menjadi salah satu faktor yang paling dominan dalam membentuk perilaku, sikap, serta pola pikirku. Dalam ruang lingkup keluarga mungkin proses konsepsi ini dapat berjalan dengan baik, terarah, dan terkontrol, tetapi dalam tatanan lingkungan sosial yang lebih luas hal ini menjadi anasir terbesar yang meracuni pikiranku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: