Wacana Usang Globalisasi

Tata ekonomi Internasional baru merupakan sebuah wacana yang terus menjadi bahan pemikiran dan kajian diseluruh dunia, baik dikalangan negarawan, tokoh ekonomi, maupun tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Tata ekonomi internasional ini lahir bukan tanpa sebab, masalah ini muncul atas adanya kritik terhadap adanya gap yang terlalu jauh antara negara-negara utara yang notabene adalah negara maju (Negara Dunia ke-1 dan ke-2) dengan negara-negara selatan (Negara Dunia ke-3). Istilah negara dunia ke-3 adalah istilah yang diberikan negara dunia ke-1 (negara maju) bagi negara-negara berkembang.

Menurut Ismail Sabri Abdalla, dunia ke-3 adalah kelompok negara-negara yang dalam proses historis berdirinya orde dunia dewasa ini tidak ikut serta mengalami perkembangan bersama dengan dan yang ada sekarang ini menjadi negara-negara industri kaya. Dengan demikian yang menjadi inti dari sistem perekonomian dunia sekarang ini adalah negara dunia ke-1 dan ke-2. Sedangkan negara dunia ke-3 pada dasarnya adalah hasil ekspansi sistem kapitalis dunia. Pendapat ini sejalan dengan apa yang diutarakan Imannuel Wallerstein yang melakukan penelitian dengan pendekatan sejarah yang menyimpulkan bahwa dunia dewasa ini telah menjadi satu sistem saja, yaitu sistem dunia yang dihasilkan perkembangan perekonomian kapitalis yang dimulai dari eropa barat pada abad XVI dan mencapai kematangannya pada abad XIX dan menjadi sistem kapitalis dunia.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah benarkah sistem perekonomian global ini akan membuat gap antara negara dunia ke-1 dan engara ke-3 pudar? Padahal apabila kita kaji, sistem ini dengan produk-produknya yang berupa globalisasi ekonomi, free trade, open financial market dan lain-lain, semuanya tak lain dari hanya sekedar perpanjangan dari usaha-usaha kaum kapitalis untuk mengeruk dan menumpuk kekayaan dengan mengeksploitasi negara-negara lain. Robin Hahnel dalam artikelnya Capitalist in Crisis; Understanding the Global Economic Crisis (2002), mengatakan bahwa “Financial market hanya akan membuat pemegang aset semakin melipat gandakan kekayaannya tanpa melakukan apa-apa”. Mereka memanfaatkan sarana yang ada pada pasar uang untuk melakukan spekulasi guna menumpuk kekayaannya.

Globalisasi dalam segala bidang dewasa ini dipandang sebagai suatu kewajiban bagi seluruh negara di dunia. Persepsi mereka adalah bahwa negara-negara yang tidak membuka diri dan tidak menerapkan globalisasi (yang sebenarnya merupakan ameliorasi dari liberalisasi) pasti akan mengalami ketertinggalan, keterbelakangan, sulit untuk dapat bersaing dengan negara lain, dan dianggap primitif.

Dunia sekarang ini menjelma menjadi sebuah desa yang besar, tanpa tapal batas, dimana garis-garis batas wilayah antar negara (boarder lines) menjadi semakin kabur. Dunia semakin berkembang pesat, hal itu ditunjang dan diiringi kemajuan di berbagai bidang yang kemudian berimbas pada modernisasi di semua sektor, yang sekali lagi kemudian mengukuhkan kembali mengenai justifikasi pentingnya globalisasi. Padahal menurut Prof. Tilaar di dalam bukunya “Pembangunan Menyongsong Abad XXI” konsep dari modernisasi itu sendiri masih kabur karena modernisasi diartikan sebagai penerapan nasionalisme dan teknologi ala barat”.

Dilihat dari sejarahnya, gagasan angin liberalisasi ini semakin kuat hembusannya setelah berakhirnya perang dingin antara blok komunis dengan blok kapitalis. Kemenangan blok kapitalis secara otomatis mengubah suasana dan tatanan dunia. Setelah itu munculah kepermukaan global gagasan dari kelompok negara-negara tersebut untuk mengembangkan sebuah sistem yang mengandalkan pengembangan ekonomi pada suatu mekanisme sistem pasar yang dapat bekerja sempurna dengan kebebasan usaha melalui liberalisasi ekonomi pasar. Dan semenjak itu liberalisasi ekonomi menjadi agenda utama bagi pengembangan ekonomi dunia. Dari sini kita dapat melihat kearogansian dan kerakusan negara-negara kapitalis karena dengan sistem ini sebenarnya mereka menerapkan konsep imperialisme baru. Dengan sistem ini mereka bebas melakukan intervensi dan penetrasi ke negara lain khususnya negara-negara lemah ekonomi dan power yaitu negara dunia ke-3, maka tak pelak lagi negara kaya tersebut akan semakin kaya, sedangkan negara dunia ke-3 akan semakin tergantung dan sulit untuk maju karena mereka hanya dijadikan susu perahan dan menjadi tamu di negaranya sendiri. Jelas sekali di dalam sistem ekonomi ini terdapat banyak kepentingan-kepentingan dari pihak asing yang dalam hal ini para kaum kapitalis. Ketika globalisasi ekonomi ini sudah menjadi suatu tuntutan zaman maka yang perlu dicermati sekarang adalah Indonesia harus memperbaiki struktur ekonominya terlebih dahulu.

Terakhir penulis ingin mengutarakan kembali sebuah wacana yang diutarakan Emil Salim yaitu bahwa “Yang dibutuhkan dunia dewasa ini bukanlah kempemimpinan global ditangan satu pusat, tetapi melainkan pemberdayaan anggota-anggota dunia yang kemudian secara bersama-sama mengelola dunia”.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cleveland. (1993). Lahirnya Sebuah Dunia Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
2. Dawan, Rahardjo, M. (1987). Perekonomian Indonesia Pertumbuhan dan Krisis. Jakarta: Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerapan Ekonomi dan Sosial.
3. Djojohadikusumo. (1975). Indonesia dalam Perekonomia Dunia. Jakarta: Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerapan Ekonomi dan Sosial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: