Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bandung: antara Euforia, Keresahan, dan Tantangan Global

Kemajuan sebuah negara dapat dilihat dari berbagai faktor. Pada awalnya yang dihitung adalah berupa GNP (Gross National Product), tetapi UNDP pada tahun 1990-an menggunakan kategori baru dalam menghitung tingkat kemajuan atau kemakmuran suatu bangsa, yaitu dengan menggunakan Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM lebih spesifiknya digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, berkembang atau terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

IPM merupakan indeks yang terdiri dari empat indikator yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan kemampuan daya beli (BPS: 2008). United Nations Development Program (UNDP), mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2012 adalah sebesar 0.629. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 0.005 dari tahun 2011, dimana Indonesia memperoleh nilai IPM sebesar 0.624, dan secara peringkat Indonesia berhasil menaikkan peringkatnya sebanyak 3 peringkat ke peringkat 121, dimana sebelumnya hanya menempati peringkat 124. Lalu apakah dengan kenaikan IPM ini kita harus puas dan berbangga hati? Tentunya tidak, kenaikan ini memang harus diapresiasi, tetapi patut diingat jangan sampai menjadi euforia semata, tanpa kemudian kita menganalisis dan melihat gambaran besarnya.

IPM Indonesia tahun 2012 secara angka dan peringkat memang mengalami kenaikan, tetapi patut diketahui bahwa Indonesia berada di peringkat 121 dari total 187 negara. Peringkat dan nilai IPM Indonesia ini sama dengan negara-negara di Karibia dan Afrika Selatan, dan nilai IPM Indonesia saat ini masih di bawah angka rata-rata negara dengan nilai IPM menengah, rata-rata angka IPM negara yang masuk kategori menengah sebesar 0,640. Lalu bagaimana kualitas dan IPM Indonesia bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN? IPM Indonesia ternyata masih berada dibawah Malaysia yang menempati peringkat 64 dengan nilai 0,769, Singapura 18 (0,895), Thailand 103 (0,690), atau Brunei Darussalam di posisi 30 (0,855). IPM Indonesia hanya lebih baik dibanding IPM Myanmar yang menduduki posisi 149 (0,498) dan Filiphina 127 (0,617), Kamboja 138 (0,543), Timor Leste 134 (0,576).

IPM inipun bisa menjadi salah satu indikator keberhasilan upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk), yang pada ujungnya adalah memperlihatkan salah satu ukuran kinerja daerah. Lalu bagaimana dengan IPM Kota Bandung? Berdasarkan data dari Galamedia diperoleh data bahwa IPM Kota Bandung pada tahun 2012 mencapai 79.32, angka ini meningkat sebesar 2.86 dari IPM 2011 yaitu sebesar 76.46 pun dari IPM Kota Bandung pada tahun 2010 yaitu sebesar 76.06. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bandung ini memang lebih baik dibandingkan IPM Provinsi Jabar yaitu sebesar 72.73 bahkan Nasional 72,77.

Saat ini, indeks pendidikan Kota Bandung mencapai 90,25%, kesehatan 81,35%, daya beli 66,35%, pertumbuhan ekonomi 8.24%. Sementara indeks Provinsi Jabar dalam hal pendidikan mencapai 82,55%, indeks kesehatan 72,434%, dan laju pertumbuhan ekonomi 6,21%. Disini kita bisa menyimpulkan bahwa dalam hal Indeks Pendidikan, kesehatan, daya beli dan laju pertumbuhan ekonomi, Bandung bisa melampaui Indeks Provinsi Jawa Barat.

Hal lain yang patut dicermati adalah laporan The Global City Competitiveness Index 2012 yang mana meramalkan bahwa akan muncul kota-kota tidak terkenal di Negara-negara yang akan menjadi kekuatan ekonomi baru yang akan membuat kejutan dalam hal peningkatan daya saing pada tahun 2020. Dan berdasarkan data dari Economist Intelligence Unit dan Citigroup, Kota Bandung (Indonesia) merupakan salah satu kota baru yang akan membuat kejutan tersebut selain 3 kota lainnya yaitu Hangzhou (China), Lagos (Nigeria), dan Lima (Peru). Artinya pada tahun 2020 diprediksikan Bandung akan menjadi kota yang mempunyai daya saing tinggi di Dunia.

Melihat data-data di atas, tentunya kita sebagai warga Kota Bandung akan merasa bangga terhadap pencapaian-pencapaian pembangunan manusia, maupun data forecasting mengenai kemungkinan Bandung menjadi peta kekuatan ekonomi baru secara Internasional. Tetapi seperti halnya yang dibahas dalam pembahasan IPM Indonesia sebelumnya, semua pencapaian inipun harus dicermati secara cerdas, dikritisi sehingga tidak hanya membuat euforia sesaat. Karena dibalik semua pencapaian dan kesempatan didepan yang terlihat cerah, kita harus melihat kembali bahwa data IPM tersebut memperliatkan keberhasilan lokal, artinya membandingkan pencapaian indeks IPM Bandung dengan Indeks IPM di Kota, Kabupaten di Indonesia. Yang menjadi persoalan adalah walaupun angka-angka tersebut terlihat baik, tetapi secara kumulatif jangan lupa bahwa IPM kita masih kalah dibandingkan dengan Negara-negara lain contoh terdekatnya adalah Negara-negara di ASEAN. Hal ini menandakan bahwa ada kita harus melihatnya secara komprehensif bahwa di depan Bandung mempunyai persoalan dalam hal daya saing global.

Dalam hal indeks pendidikan, diketahui bahwa indeks IPM Bandung sangat baik yaitu mencapai 90.25%. Indikator pendidikan ini terdiri dari (1) Angka melek huruf, (2) Rata-rata lama sekolah, (3) Angka partisipasi sekolah (4) Angka putus sekolah. Dengan pencapaian tersebut kembali pertanyaan muncul, benarkah data tersebut sudah memperlihatkan kualitas pendidikan yang sesungguhnya? Bagaimana bila dikaitkan dengan kompetensi hasil lulusannya bila diharuskan bersaing dengan lulusan luar negeri. Jangan lupa bahwa dalam hal pendidikan angka harapan tahun belajar jangankan secara lokal, secara nasional saja terus mengalami stagnan dalam tiga tahun terakhir. Data UNPD menyebutkan, tingkat ekspektasi tahun belajar Indonesia tetap berada pada level 12,9 pada 2010, 2011, dan 2012. Artinya, penduduk Indonesia memiliki harapan sekolah selama 12,9 tahun atau hanya mencapai sekolah menengah pertama, dan ini mengindikasikan tidak ada kemajuan dalam hal angka harapan sekolah Indonesia dari tahun 2010 . (Sumber: http://www.tempo.com)

Kitapun bisa melihat bahwa semenjak diberlakukannya ACFTA (Asean–China Free Trade Area) pada tahun 2010, sektor riil di Indonesia mengalami hantaman yang cukup besar. Produk-produk dari luar khususnya China membanjiri pasar Indonesia. Dan pada tahun 2015 Indonesia bersama Negara ASEAN lainnya sepakat mengimplementasikan Asean Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Melalui MEA diharapkan terbentuk pasar tunggal dan basis produksi Asean dengan isu terpenting yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian negara ASEAN. Terbentuknya MEA hal ini berarti terbukanya peluang untuk para investor untuk menanamkan modalnya dalam bentuk FDI di wilayah ASEAN. Yang menjadi tantangan, adalah selain semakin gencarnya produk asing yang datang dan membanjiri pasar lokal, peta persaingan kerjapun akan berubah drastis, dimana akan banyak tenaga kerja asing yang akan datang dan bekerja di berbagai sektor dan di berbagai level pekerjaan. Dan pertanyaannya adalah siapkah warga Bandung untuk menghadapi persaingan global tersebut?

Oleh: Andri Irawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: