Kenalan dengan Poligami Yukkk

Pernikahan merupakan kata yang sakral dalam kehidupan. Tatkala mendengarnya akan terbayang suatu kondisi rumah tangga. Keluarga Sakinah, Mawadah, Warahmah merupakan cita-cita yang didambakan setiap pasangan kekasih saat mengarungi bahtera hidup.

Poligami atau Ta’addud pun merupakan suatu bentuk pernikahan. Tetapi ketika mendengar kata tersebut sebagian dari kita langsung memandangnya dengan sebelah mata, antipati, curiga, dan kitapun cenderung memandang negatif dan bersu’udzon kepada para suami yang melakukan poligami. Poligami dipandang sebagai perbuatan yang melanggar hak asasi wanita, simbol keegoisan pria, dan perbuatan yang tercela, sampai ketika kemarin ada cerita dimana ada seorang Ulama yang menikah lagi kitapun ikut-ikutan menghujatnya. Tapi benarkah mempunyai istri lebih dari satu itu merupakan perbuatan yang tercela??

Untuk itu marilah kita sedikit flashback kembali ke zaman dahulu. Tatakala kita lihat, ternyata Nabi Daud, Nabi Sulaeman, Nabi Ibrahim, sampai Nabi Muhammad SAW serta para sahabatpun mempunyai istri lebih dari satu, lalu apakah perbuatan mereka dapat dikategorikan sebagai suatu pelanggaran terhadap hak asasi wanita?

Stigmatisasi ini bukan lahir tanpa sebab, apabila kita kaji dari tinjauan aspek historis salah satu penyebab timbulnya stigma masyarakat ini adalah dikarenakan kultur sosial masyarakat Indonesia dimasa lalu. Poligami di Indonesia telah dikenal sejak dulu yaitu sejak zaman kerajaan dan masa feodal. Tetapi konsep poligami ini berbeda dengan konsep poligami Islam. Pada saat itu poligami atau dikenal juga dengan sebutan pergundikkanpun sudah mendapat cap yang buruk dari masyarakat. Poligami yang saat pada saat itu banyak dilakukan oleh para petinggi-petinggi kerajaan, para Bupati, maupun para Meneer Belanda saat itu tidak lebih dari hanya sebuah pengekangan dan perbudakan terhadap wanita. Perlakuan yang diterima para gundikpun tidak sama, mereka tidak diperlakukan sebagaimana selayaknya istri, hak-hak mereka tidak sama dengan istri pertama, kelas, status, derajat sosial merekapun berebeda. Dan hal inilah yang menjadi salah satu penyebab paradigma yang salah dari masyarakat terhadap poligami.

Kitapun menyadari bahwa meskipun Indonesia merupakan negara dengan jumlah umat muslim terbesar, dan mayoritas penduduknya menganut agama islam, tetapi corak kehidupan masyarakatnya masih plural. Corak kehidupan masyarakat kita masih sangat dipengaruhi oleh sistem kebudayaan, adat serta paham-paham yang mengandung sakofah-sakofah barat seperti sosialis, kapitalis dan kawan-kawannya, selain hal ini faktor lain yang menyebabkan buruknya citra poligami di masyarakat adalah kenyataan di lapangan bahwa poligami yang banyak dilakukan dewasa ini tidak berdasarkan syara. Karena tidak berdasarkan syara maka tujuan poligaminyapun tidak jelas dan mayoritas hanya dilakukan sekedar untuk pemuas nafsu semata.

Walaupun konsep poligami ada dan dibolehkan dalam Islam, tetapi bukan berarti poligami bebas untuk dilakukan, dan tidak berarti pula setiap suami bisa dengan seenaknya menduakan istrinya. Bagaimanapun juga poligami itu essensinya adalah pernikahan, dan pernikahan haruslah berdasarkan rasa ridho dan ikhlas serta sah berdasarkan hukum syara. Ikhlas dan ridho itu berkaitan dengan niat, yaitu demi kemaslahatan umat, dan untuk Islam. Niatpun harus berdasarkan Lilahi ta’alla, bukan karena nafsu. Ketentuan poligami terncatum dalam surat An-Nisya ayat 3, dan salah satu point yang penting dalam surat ini adalah mengenai konsep adil. Adil dalam arti si suami menjalankan kewajibannya yaitu: menafkahi, mendidik, menggauli istrinya dengan baik, serta membahagiakan istri-istrinya tanpa terkecuali. Tidak ada perbedaan perlakuan baik dalam hal yang bersifat materi maupun non materi (kasih sayang). Semua istri mempunyai hak yang sama begitupun dengan anak-anak hasil poligaminya.

Imam Syafe’i membagi hukum poligami kedalam tiga kategori, yaitu; mubah, makruh, san haram. Mubah apabila si suami mempunyai istri yang tidak shalihah, dan tidak mempunyai keturunan darinya. Makruh apabila sang istri shalihah, tetapi tidak mempunyai keturunan darinya, dan ia mempunyai kecukupan materi. Dan menjadi haram tatkala si istri shalihah, si suami tidak shaleh sedangkan ia tidak mempunyai keturunan darinya.

Istri sangat penting peranannya bagi suami, urgensinya adalah karena istrilah yang menjadi penyejuk hati suami tatkala gundah, ia adalah motivator, ia adalah sumber inspirasi, dan ia adalah partner yang melangkah bersama menapaki jalan kehidupan. Tetapi tidak semua istri dapat memposisikan kedudukannya seperti itu. Istri selayaknya suami, dapat membawa kita ke pintu syurga, tetapi sebaliknya ia dapat pula menyeret kita ke neraka. Apabila istri kita tidak shalihah sedangkan kita takut terbawa kepada kekafiran, kita dapat mengambil tiga option keputusan; yang pertama adalah dengan tetap bersamanya dan berusaha mennyadarkannya (dengan tahapan cara; menasihatinya, apabila tidak berhasil maka pisah ranjang, dan terakhir memberikannya ancaman), yang kedua adalah dengan cara poligami, dan yang terakhir adalah menceraikannya.

Selain untuk mengatasi masalah di atas, poligampun dapat dijadikan sebagai solusi bagi persoalan umat, contoh ketika disuatu negara terdapat banyak janda misal karena bencana alam, peperangan atau apapun, dan kita khawatir akan nafkah dan kesejahteraan anak-anaknya, maka untuk menghindarkan janda tersebut dari perbuatan yang dilarang agama misalnya jadi pelacur dan pencuri, maka kitapun dapat mengambil mereka sebagi istri. Konsep ini dapat pula diterapkan apabila disuatu wilayah jumlah penduduk wanitanya lebih banyak dibandingkan jumlah pria. Jadi jelaslah disini bahwa poligami dapat dijadikan sebagai salah satu solusi untuk kemaslahatan umat. Tetapi walaupun begitu, janganlah hal ini langsung dijadikan suatu justifikasi bagi para suami untuk langsung berpoligami. Satu hal yang harus dicermati oleh para lelaki adalah aspek kemampuan. Apabila kita belum mampu menafkahi dengan benar, belum mampu berbuat adil, belum mampu membahagiakan satu orang istri saja, maka ikhwan… Jangan pernah bermimpi untuk menikah lagi!!!, dan luruskan niat karena hal itu akan menjadi an’la tau’lu bagi kita.

Menikah adalah suatu proses penyempurnaan diri untuk beribadah kepada Allah SWT. Tetapi sebelum mencapai jenjang tersebut apalagi untuk menambah istri, kita harus terlebih dahulu dapat menunjukkan kesiapan dan kepantasan diri, akhlaq, serta harus dapat amanah, disiplin dan mempunyai konsep diri yang matang. Jadi walaupun poligami diperbolehkan tetapi itupun harus berdasarkan syara dan niat yang benar, karena bisa saja bukannya membawa kebaikan tetapi malah menjadi lahan kemudharatan, naudzubillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: