Citra Diri vs Pencitraan Diri

3537705112Self Image, ya begitulah orang mengatakannya, sebuah keadaan dan saya sih senangnya mengatakan itu sebuah kesadaran akan ke “aku-an seseorang. Sebuah Identitas dan juga entitas yang menjadi personifikasi seseorang atas reaksi dan jawaban terhadap keadaan, lingkungan, masa lalu serta olah pikir dan rasa yang terkonklusi dalam sebuah cara pandang, cara pikir dan cara hidup yang kemudian tergambar dan terlihat jelas dalam cara bagaimana seorang individu merefleksikan dirinya.

Tapi tidak semua citra diri yang tampak merupakan hasil dari sebuah perjalanan pikir dan batin yang kemudian tereduksi dalam potret diri. Kadang anasir dan kebutuhan akan pengakuan atau pemenuhan self esteem dan aktualisasi diri ikut menyumbang pengaruh yang besar terhadap “persona” seseorang.

Tapi hakekatnya adalah artificial self image, atau citra diri yang palsu tidak kongruen dan dipaksakan atas dasar tuntutan dan kebutuhan dan acap kali kekangan itu tidak akan bertahan lama. Karena pribadi yang menyadai akan ke “aku-annya” adalah justru yang akan menjadi pribadi yang utuh, ajeg.

Dinamika, lingkungan dan dunia yang semakin berkembang serta ditambah dengan arus informasi yang berevolusi sedemikian cepatnya saat ini, dimana tiap detik otak kita di bombardir oleh beribu informasi-informasi baru yang bahkan tidak menyisakan waktu agar otak kita untuk mencerna dan memprosesnya menjadi salah satu aspek yang kemudian membuat seseorang bukan hanya kehilangan dan kesulitan mencari jati dirinya bahkan eksistensinya pun kadang bermasalah. Karena ia hidup dalam sebuah tubuh yang bahkan kemudian tidak mengenal jiwa dari individu di dalamnya. Hal ini lah yang kemudian kadan memaksa beberapa orang menciptakan sebuah tameng dan topeng persona yang baru agar kemudian ia dapat menambal kekurangannya tersebut.

Hal yang paling gampang dilakukan yaitu ia kemudian menjiplak citra diri orang lain, pesohor, idola dan kelompok yang dijadikan acuan oleh individu tersebut maupun kelompoknya. Atau ada pula yang kemudian dalam proses pencariannya ia bukannya lookin within melakukan proses internalisasi, tetapi justru melihat keluar dan membuat sebuah gambaran diri tentang “siapa dan bagaimana keadaan dan sikap serta semua atribut orang yang akan dan ingin dia ciptakan”. Itu layaknya anda mengganti casing handphone anda, tapi seyogyanya anda tidak mengganti mesin di dalamnya.

Hal ini pula lah yang menjadikan manusia di era informasi ini kemudian sering kehilangan makna dan jati dirinya, bagaikan zombie yang hidup atau sebuah program auto pilot yang melakukan sesuatu dengan tombol otomatis dan just play tanpa sadar dan kesadaran diri yang kemudian mengakibatkan ia kehilangan makna ketika menjalaninya, hal tersebut terjadi karena memang semua keadaan berubah dan merubahnya bahkan membuatnya sangat teramat sibuk yang akhirnya mengakibatkan ia kehilangan waktu untuk menyadari arti exsistensinya di dunia. Dan materialisme serta hedonisme pun kemudian menjadi salah satu riasan dalam pencitraan dirinya.

Dan ketika membuat tulisan ini pun saya tidak berusaha membuat sebuah konklusi akan bagaimana dan seperti apa way out yang harus dilakukan oleh individu-individu dalam merekonstruksi kembali bagaimana citra diri yang ideal. Ini hanyalah sebuah pemaparan, penalaran dan keresahan yang saya rasakan ketika melihat realitas yang saya temui sekarang ini.

Oleh: Andri Irawan

Posted on Februari 19, 2013, in Motivasi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: