PREWEDDING SYNDROME (Sindrom Pra Nikah, Toloong Saya Takut Nikah!!)

Gambar

Beberapa bulan ini salah seorang sahabat baik saya sedang mengGALAU luar biasa, dan seperti biasa kalau galau sedang melanda salah seorang dari kami bertiga makaaaaa,, pelampiasannya adalah teriak-teriak dan karaoke bersama. Ya itulah yang kami namakan TERAPI psikologis hehe.

 

Pendek cerita, kegalauannnya kurang lebih terjadi  semenjak1/2 tahun yang lalu, yaitu semenjak dia telah kalau kata bahasa Jermannya mah “Di cabak tu’ur” oleh calon mertuanya, alias “di tarosan bin ditanyaan” a.ka di tanya keseriusan hubungannya dengan putrinya.

 

Sahabat saya itu kebetulan menjalin hubungan dengan salah seorang putri dari yaaaa yg bisa dikatakan tokoh alim ulama di Daerah kelahirannya, dan setelah itu proses “cabak tu’ur” berlangsung maka perencanaan pernikahanpun dilakukan oleh kedua orangtuanya dan “TOK” ketok palu dari kedua belah orang tua telah dihasilkan, pernikahan akan dilangsungkan Juni tahun 2013 ini.

 

Dilihat dari umur sahabat saya itu telah siap untuk berumah tangga, kerja? Dia telah bekerja, niat dan mental?  Wow mentalitas “kebelet nikahnya” mungkin dua kali lebih tinggi dibanding pas saya dulu menikah, dan niatnya sendiri sangat luar biasa bagus, udah tok buat ibadah (hal yang sama yg saya niatkan pas dulu mau nikah tapi kadang sulit untuk konsisten sih bagi saya pribadi) nah lalu apa yang kurang? Restu dari kedua orang tuapun telah di dapat. Sebenernyasih  tinggal bikin SIM (Surat Izin Meniduri Oopps salah Menikah maksudnya) lalu tancap gas ngeeeng ngeeeeeng. Tapi, toh dibalik semua persiapannya masih tetap kegalauan dan keresahan itu hadir, kini ia seperti berlari kucing-kucingan antara “pengen” dengan merasa ga siap, merasa resah, ga tenang, keluar keringat dingin di atas (dan kemungkinan besar di area bawah juga sih hehe) over all menjelang beberapa bulan nikah bukannya happy tapi malah sepi menyendiri dan terlihat kurang gizi. Hey What’s Wrong Dude??

 

Yang menjadi menarik adalah sindrom ini hampir dirasakan dan dialami oleh mayoritas orang yang akanmenikah, baik itu si pria ataupun wanita (sayapun jujur mengalaminya sampai,,, let’s see H-1 nikah) The question is why does most of every person who attend to get marry have the same kind of syndrome?

 

Sindrome ini dinamakan Pranikah Sindrome atau Prewedding Syndrome (PWS). Yaitu sebuah keadaan dan tekanan psikologis yang dialami pasangan muda mudi yang akan menikah (saya tidak mensugest pasangan yang nikahnya antara muda muda atau mudi mudi), sederhananya adalah sebuah gangguan psikologis (stress) yang dialami oleh pasangan yang akan menjalani gerbang pernikahan seiring dengan semakin mendekatnya waktu hari H. Sindrom pranikah erat kaitannya dengan persiapan yang dilakukan kedua calon mempelai. Baik itu menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan sesudah menikah nanti, maupun menyiapkan hal-hal seremonial seputar menikah. (Hati-hati kadang dari gangguang psikologis ini ngerember ke gangguan psikosomatis, beberapa teman saya hanya membicarakan nikah saja tiba-tiba sakit perut, atau ada yang sesak nafas)

 

Beberapa penyebab dari sindrome ini bisa diidentifikasi seperti:

  1. Belum benar-benar siap untuk menikah.
  2. Takut akan tanggung jawab baru baik sebagai suami / istri terlebih menjadi bapak / ibu
  3. Belum siap untuk punya anak.
  4. Hilangnya perasaan kepada pasangan
  5. Kejenuhan pada salah satu calon mempelai atau keduanya.
  6. Kedua calon mempelai membayangkan indahnya pernikahan, tapi terkadang tanpa belajar untuk siap menerima kekurangan-kekurangan dari orang yang kelak menikah dengannya, akibatnya menjelang pernikahan berlangsung muncul rasa gamang dan ragu terhadap pasangannya.
  7. Takut tidak bisa menafkahi pasangan
  8. Kekahawatiran akan kehilangan kebebasan individual jika menikah (merasa terkekang)
  9. Merasa tidak biasa dan tidak nyaman berpindah dari comfort zone ke uncomfort zone
  10. Khawatir pasangan kita bukan yang terbaik, khawatir di luar sana justru ada true love dan jodoh kita yang menanti
  11. Yang paling BAHAYA adalah jika sempet berpikir, “bagaimana kalau gagal, kalau sampai nanti ga cocok dan cerai??” (nikahnya belum tapi merencanakan cerainya sudah)
  12. Dll

 

Jika ditelusuri dan dicari maka seribu macam alasan dan kekhawatiran akan bisa ditulis, jika ditulis dalam gulungan tissue toilet mungkin juga kurang hehe, tapi intinya adalah bukan mengenai alasan, kekhawatiran dan ketakutan anda, tapi bagaimana justru ketakutan itu bisa di antisipasi sehingga berubah menjadi sebuah semangat menyongsong hidup baru dengan pasangan anda.

 

Cinta atau perasaan saja tidak cukup, harus ada persiapan, persiapan saja tidak cukup harus ada pemantapan, dan pemantapan itu baik dari materi maupun non materi, kalau materi kadang absurd karena wacana “menikah jika sudah mapan” itu absurd, mending kalau iya mapan, kalau sampe tua tapi ga mapan-mapan?? Hehe bukan menyepelekan tapi itu true story dan terjadi di pada beberapa teman dan keluarga saya, yang mereka akhirnya harus menikah di usia tua tanpa kemapanan apapun. Konsep kemapanan sendiri di tiap orang memang berbeda, sampai mana orang dikatakan sudah mapan? Apakah ketika sudah punya pekerjaan dengan gaji 10 juta? Ketika sudah punya rumah? Ketika sudah punya kendaraan banyak?? Atau mungkin ketika sudah punya istri banyak? Hehe, jujur saya pun ketika menikah jauuh dari mapan, tapi saya ingat janji Allah :

“Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (QS. An Nahl (16):72)

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka.” (Al Hadits)

Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡”. (HR. Hakim dan Abu Dawud)

“Carilah rezeki dengan menikah”. (HR. Ad-Dailami)

 

Bagi saya itu sudah cukup menjadi landasan teoritis dan landasan hukum untuk saya menikah. Menikah itu kadang harus memakai otak kanan (coba baca buku 7 Keajaiban Rejekinya Ippho Santosa). Menikah itu bukan perkara materi tapi lebih ke perkara mental. Jujur tidak ada yang siap 100% untuk menikah, tapi jika anda tidak melakoninya kapan anda mau siap??

Jika niat sudah ada, azzam sudah terucap, persiapan sudah dimulai, kawan tidak ada kata untuk mundur, percayalah ini adalah semata-mata godaan Syaitan untuk melemahkan niat ibadah dan penyempurnaan agamamu. Cobaan dan godaan suka tiba-tiba datang, dari pinggir, depan, belakang, atas, bawah. Tiba-tiba mantan yang datang lagi lah entah dari mana padahal dia selama bertahun-tahun, ataukah tiba-tiba banyak yang naksir, halangan dari keluarganya apakah saudara ataupun orang tuanya (yang padahal asalnya sudah memberi lampu hijau ke kita) dan beragam dan beribu lagi tipu muslihat Syaitan yang membisiki kita dan orang sekitar kita agar pernikahan kita gagal.

 

Maka orang yang beruntung adalah orang yang berpegang teguh pada tali agama, ia yang berani mengambil keputusan untuk menyempurnakan agamanya.

 

Jangan takut untuk menikah, tapi takutlah untuk tidak menikah. Bersuka citalah karena anda akan menikah, ayo luruskan kembali niat “untuk apa saya menikah?” lalu ucapkan Bismillah dan lihatlah di sana sang pangeran / bidadari anda sudah menunggu anda.

By: Andri Irawan

Posted on Februari 1, 2013, in Motivasi. Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. weehhhhh, aqu skg juga lg merasakan PWS…tiba2 meragu dg pasangan…hari terus berlalu, persiapan sdh 70%…hati kecilq terus berbisik. is he the right man for me??? berbagai upaya aqu lakukan u/ tetap mengembalikan niatq. yg terpenting berdoa kpd Tuhan.

  2. Terima kasih postingannya🙂

  3. Persis…😀
    Dapet artikel ini juga search google… Pas banget… Pws😦

  4. Thanks infonya betmanfaat bgt. Ohhh pws😦

  5. hehehe, seminggu lagi menikah dan kamu kamu pasti tau kenapa aku bisa sampai ke postingan ini.

  6. sama sprti yg sdg sy rasakan..
    Astaghfirullah..😦
    Bismillaah.. luruskan niat kembaliiii🙂
    makasii yaa postingan’y, bermanfaat..

  7. hmm… trnyata aku kena yg ky bgini yah… persis bnr… godaan syaiton… tau2 muncul perasaan yang sama persis ky yg disebutin… kukira aku kena kiriman gunaguna… wuakakak… trnyata PWS itu ada….

  8. makasih banget..
    doakan yaah….PWS ini berangsur hilang 😐

  9. Selamat Pagi/Siang/Sore,

    Saya Puti Saraswati, mahasiswa Psikologi BINUS University. Saya sedang melakukan penelitian untuk tugas akhir saya mengenai Kesiapan Menikah pada individu dewasa muda awal. Bila kalian:
    – berusia 18-29 tahun,
    – berdomisili di Jakarta,
    – sudah memiliki pasangan dan sudah bertunangan secara formal (dengan acara) atau informal (kesepakatan antarpasangan), dan
    – pernah menyaksikan/mendengar orangtua bertengkar lebih dari sekali.

    Saya minta bantuannya untuk menjadi responden penelitian dengan mengklik link ini:
    https://docs.google.com/forms/d/14dV7UVonoBzbjdp6PNUEOKcAQKSu7_bgprXdTQAac3Q/viewform
    Informasi yg saya dapatkan hanya digunakan untuk tujuan penelitian dan akan dijamin kerahasiaannya.

    Terimakasih🙂

  10. ijin share ya mas..🙂

  11. 5bln lagi ak menikah skrg LDR an rasa jenuh itu muncul rasa ng cocok itu muncul fan macem macem lbh parah nya ak baper ke inget mantan mantan…calon ku usia 33thn sdgkan aku 21 thn selisih banyak itu membuat ak ragu bimbang takut gelisah….lalu ak harus gmn…sdgkn dia sayang bgt sama ak…ak harus gmn dong sob…:'(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: