Kisah seorang pembantu imigran yang berhasil menjadi Doktor di Harvard

Hari ini saya mendapatkan news letter dari sebuah situs, dan salah satu isinya adalah bagi saya pribadi sebuah kisah sukses From Zero to Hero. Dan kembali MENEGASKAN bahwa keberhasilan tidak berkorelasi dengan umur, keadaan ekonomi, keturunan dan nasib!!! yang menjadikan orang sukses atau tidak kembali dan kembali lagi ternyata adalah mindset orang tersebut (AQ), apakah anda akan berhenti ketika orang mencibir anda? apakah anda akan malu dan berhenti mencoba ketika mendapat penolakan? akankah anda kemudian berlari ketika menghadapi masalah? nah kisah berikut dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana seseorang yang tadinya di anggap “nothing” dan berubah menjadi “something:
jin-kyu2
Hampir semua orang yang pernah berada di sekitar Jin Kyu Robertson merasa kagum akan kehangatan, kekuatan, ketabahan, dan kemampuannya untuk menginspirasi orang lain melalui contoh kepemimpinan yang dimilikinya. Keberadaannya dapat membuat orang lain yang ada disekitarnya berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik.

Memiliki latar belakang yang kurang menguntungkan, cerita yang dimilikinya adalah mengenai kekuatan akan ketekunan. Beliau adalah anak pemiliki kedai dimana kedua orangtuanya tidak pernah merasakan bangku sekolah sama sekali. Hingga umur 10 tahun, beliau bekerja membantu ibunya dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Beliau juga menjaga adiknya yang masih bayi yang memiliki ‘kekurangan’. Jin Kyu mengatakan keadaan adiknya membuat ibunya menjadi suka meminum minuman keras dan hal tersebut menambah daftar mimpi buruk masa kecilnya. Bahkan ibunya sering kali berteriak mengatakan “Wanita itu tidak berguna! Kau tidak berguna!” hingga mncul pertanyaan dalam hatinya yang mengatakan “Kenapa? Apakah kesalahanku untuk lahir sebagai seorang wanita?”.
jin-kyu1
Meskipun beliau memiliki berbagai masalah dan tekanan mental, Jin Kyu berhasil menyelesaikan pendidikannya, bahkan kedua orangtuanya mengijinkannya untuk menyelesaikan sekolah menengah dan SMU. Beliau tidak memiliki uang untuk duduk di bangku kuliah, sehingga beliau bekerja di sebuah pabrik sebagai pelayan dan pembantu rumah tangga. Suatu hari, beliau melihat iklan di surat kabar mengenai pekerjaan menjadi pembantu rumah tangga di Amerika. Beliau memutuskan untuk melamar pekerjaan tersebut, walaupun keluarganya menentangnya.

“Saat itu Saya berumur 22 tahun dan saya tidak menguasai bahasa Inggris sama sekali”, ucapnya.”jadi yang saya lakukan adalah berlatih untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris seperti ‘selamat pagi’, ‘selamat siang’, ‘lewat sini, silakan’, dan ‘selamat menikmati makan Anda’ serta kata-kata lainnya yang diperlukan,” katanya. Beliau sudah langsung bekerja pada saat beliau sampai di New York, akan tetapi akhirnya bekerja sebagai pelayan dan kemudian menjadi penerima tamu di sebuah restoran Yahudi di Wall Street.
Beliau sempat jatuh cinta kepada seorang yang berasal dari Korea, pernah menikah dan memiliki seorang putra. Akan tetapi ternyata suaminya adalah seorang yang suka melakukan kekerasan dan beliau menjadi korban kekerasan tersebut. Mengalami semua permasalahan di sekitarnya, beliau memilih untuk melarikan diri dan mendaftar untuk menjadi seorang tentara Amerika Serikat.

Memiliki bahasa Inggris yang tidak baik dan 10 tahun lebih tua dibandingkan calon prajurit lainnya. Latihan dasar yang sangat melelahkan tidak membuatnya menyerah bahkan beliau menjadi orang pertama yang menyelesaikanlatihan tersebut diantara 200 orang lainnya. Beliau mengatakan bahwa beliau selalu menghadapi semua kelemahan yang dimilikinya secara langsung. Jin Kyu memiliki ketakutan terhadap ketinggian, sehingga beliau melihat sebuah kesempatan di Angkatan Udara Amerika yang mengharuskannya lompat menggunakan parasut dari helikopter. Beliau juga menemukan kesempatan lain di militer, dan Jin Kyu juga langsung mengejarnya karena memang posisi tersebut memang disediakan untuk imigran dari Asia.

Militer Amerika Serikat mempekerjakan spesialis untuk ditempatkan di luar negeri, salah satunya Jepang. Beliau mencoba mendaftar akan tetapi ditolak, penolakan tersebut tidak menghentikannya. Beliau berkata “Saya menyukai program tersebut dan saya sangat menginginkan ikut serta sehingga saya berangkat ke Washington D.C untuk menemui para pengambil keputusan dan bertanya mengapa ada penolakan terhadap diri saya?”, Para pejabat Militer khawatir jika seorang wanita yang ditempatkan di sebuah negara seperti Jepang yang di dominasi laki-laki. Beliau menolak ide tersebut dengan memberikan contoh mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher. Atas pernyataannya, Jin Robertson menjadi wanita pertama yang mewakili Militer Amerika Serikat sebagai penghubung dengan Militer Jepang.

Jin Kyu juga tetap fokus terhadap pendidikan. Beliau sudah menyadari sejak awal bahwa kunci untuk mewujudkan mimpinya adalah pendidikan. Beliau mulai duduk di bangku kuliah sambil bekerja di New York. Selama bekerja di militer, beliau menyelesaikan program master di Harvard University jurusan Studi Asia Timur, dan kemudian mendaftar pada sebuah program doctoral yang memfokuskan pada Hubungan antara Amerika Serikat, Korea, dan Jepang. Setelah pension dari MIliter dengan pangkat Mayor, beliau kembali ke Harvard untuk menyelesaikan gelar Ph.Dnya.
jin-kyu3
Setelah menyelesaikan gelar Doktornya, beliau mulai mendapatkan panggilan untuk memberikan pidato motivasional. “Saya tidak tahu kalau Saya mampu bicara di muka umum,” katanya. “Setiap kali saya memikirkan mengenai berbicara di depan publik, walaupan hanya sebuah uraian di Militer, hati saya selalu berdegup kencang dan Saya sangat gugup, bahkan Saya pun tidak dapat meminum air putih,” Beliau dapat bertahan dan dapat menemukan kepercayaan dirinya karena respon dari para penonton. Beliau mengatakan “Saya menemukan perasaan gembira yang sangat meluap-luap ini, dan wow, Saya sangat mencintai pembicaraan di muka umum ini.”.

Jim Robertson mengatakan salah satu pencapaian terbesarnya adalah berhasil membesarkan putrinya, Jasmin. Berhasil lulus dari Harvard juga, jasmine mengikuti jejak ibunya untuk bertugas di Militer Amerika Serikat sebagai seorang Kapten.

Posted on Desember 19, 2012, in Motivasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: