Know Your Limitation

Beberapa minggu kemarin saya bertemu dengan rekan kerja se divisi saya dulu, pada saat itu kami sama-sama sedang mempresentasikan (lebih tepatnya mempertanggung jawabkan) pencapaian KPI & Program Kerja kami di kantor Pusat. Teman saya itu sekarang sudah menjadi Branch Manager , dan kebetulan cabangnya adalah cabang baru yang bener-bener baru saja dibuka.

Hal yang menarik yang saya dapat dari percakapan saya dengannya adalah bahwa ketika dia mempresentasikan pekerjaannya terlontar sebuah statement dari orang kantor pusat yang mengatakan “Sir, You are not Super Man!!”

Yup itu kata-kata yang terlontar oleh atasan di Pusat, Ya kita bukan Manusia Super yang kemudian harus melakukan semua jenis pekerjaan sendirian. Dalam konteks teman saya itu, karena cabangnya memang benar-benar baru, otomatis dia melakukan banyak jenis pekerjaan dengan tanggannya sendiri.

Sahabat, kadang memang kita lupa our limitation, lupa terhadap batas kemampuan fisik dan psikologis kita. Lupa bahwa dengan menghajar pekerjaan secepat mungkin, sekeras mungkin, mengejar target sebanyak mungkin kita kemudian mengorbankan banyak hal dalam kehidupan kita. Even yang kelihatan sangat sepele dan di anggap ga penting.

Grup Band Padi dalam lagunya “Sang Penghibur” mengatakan bahwa “Bukankah hidup ada perhentian, Tak harus kencang terus berlari, Kuhela kan nafas panjang, Tuk siap berlari kembali”. Benar banget kan disetiap balap F1 pun pasti ada Pitstop, di setiap jalan pun ada pom bensin, dan di setiap pom bensin ada WC umum hehe, artinya memang baik mesin apalagi manusia perlu untuk BERHENTI pada saat-saat tertentu, apakah itu untuk mengisi energi kembali ataupun melepas lelah. Mobil ketika dipaksakan terus di gas maka akan overheat, manusia jika dipaksakan terus berlari ya kalau ga kram, pingsan ya ngeheng.

Ketahuilah batas kemampuanmu, hakekatnya adalah memahami memang ada beberapa hal di hidup yang memang harus kita lepas, bahasa Rusianya mah “ulah ngarawu ku siku” hehe ya kalo di artiin kurang lebih “jangan serakah”. Melepas sesuatu bukan berarti kita kemudian kalah atau pasrah, tapi lebih memaksimalkan potensi kita dan keahlian yang kita miliki di bidang tertentu untuk memaksimalkan hasil yang ingin kita capai. Sedangkan di bidang yang memang tidak terlalu kita kuasai, lebih baik dan memang seyogyanya kita delegasikan pada tim atau orang yang kita rasa memang kompeten.

Kalo kata Ippho Santosa mah, memaksimalkan kelebihan kita sehingga kita menjadi expert di bidangnya, dan bukannya sibuk menutupi ataupun meningkatkan hal-hal yang ada pada ranah kelemahan kita, karena ketika kita berfokus dan memperbaiki kelemahan kita, hasilnya memang kelemahan kita akan terminimalisir tetapi kita hanya akan menjadi manusia rata-rata (ordinary people) dan bukan sang ahli, tapi kalo kita berfokus untuk terus meningkatkan apa yang menjadi kelebihan ataupun bakat kita, maka kita pun akan menjadi ahli di bidangnya, menjadi extraordinary, jadi the expert, kita menjadi “berbeda” di bandingkan orang lain, dan kita di cari karena kita memang ya kita sang ahli di bidang tersebut.

Belajar mengetahui batasan kita berarti kita belajar untuk berlaku adil dan bijak dalam memperlakukan diri kita sendiri.

Posted on Agustus 20, 2012, in Motivasi, Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: