SEDONA METHOD PART 2

Hmm setelah beberapa lama tidak membuat tulisan karena padatnya aktivitas dan kesibukkan, pagi ini saya mencoba membuka netbook dan menyelesaikan tulisan pertama tentang Sedona Method.

Kali ini saya akan menulis mengenai cara mengaplikasikannya atau “how to” nya. Tulisan ini adalah hasil dari kajian literatur dari berbagai sumber baik berupa real book ataupun kajian di internet yang saya ramu dan semoga bermanfaat khususnya bagi anda yang sedang mencari sebuah metode untuk menyembuhkan diri sendiri (self healing)

Sedona Method seperti yang dibahas dalam tulisan sebelumnya, dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri (monolog), dalam hal ini mungkin ada perlu suasana dan lingkungan yang mendukung ketika melakukan monolog ini, karena pertanyaan-pertanyaan anda semata-mata bukan ditujukan pada fisik atau body tapi lebih ke mind and soul anda.

Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan berikut:
1. Bisakah?
2. Maukah?
3. Kapankah?

Nah, sekarang saya akan bahas caranya:

Pertama-tama anda hadirkan, bayangkan dan rasakan kembali perasaan atau emosi yang anda ingin lepas, contoh kasus misal anda sangat sedih dan hancur karena anda kehilangan calon istri yang seharusnya 2 bulan lagi anda nikahi.

Intinya pada tahap awal ini anda harus tahu dengan sangat jelas penyebab semua rasa sedih dan emosi negatif tersebut, dalam contoh di atas adalah karena kehilangan calon istri yang seharusnya anda nikahi 2 bulan lagi

Setelah anda tahu penyebab jelasnya dari semua kegelisahan anda maka tahap selanjutnya adalah anda melakukan monolog dengan diri anda. Yang harus digaris bawahi disini adalah mungkin ketika anda melakukan monolog akan terjadi beberapa pertentangan (mungkin hati dan pikiran anda melakukan penentangan, argumentasi, pembelaan, penyangkalan dsb) itu adalah memang bagian dari proses healingnya, karena dengan pertentangan itu anda memasuki fase transisi perubahan pelepasan emosi. Ingat bahwa emosi tersebut hadir dan tersimpan didiri anda adalah karena anda sendiri yang mengizinkannya tinggal di tubuh anda, maka kadang ketika ingin melepasnya justru tubuh dan diri anda sendiri yang menolak melepasnya,, aneh ya hehe, ingin sembuh tapi yang di dalam diri menolaknya. Ya memang seperti itulah

Ok kita lanjutkan, kembali ke contoh kasus setelah perasaan negatif karena kehilangan calon istri itu datang, maka yang anda kemudian harus lakukan adalah:

1. Tanyakan pada diri sendiri, “Bisakah saya menerima rasa hancur ini?
Apapun jawabannya baik ya atau tidak, lanjutkan pada pertanyaan berikut:

2. Tanyakan pada diri sendiri, “Bisakah saya melepaskan rasa hancur ini?
Apapun jawabannya baik ya atau tidak, lanjutkan pada pertanyaan berikut:

2. “Maukah saya melepaskan rasa hancur ini?”
Seandainya anda menjawab “tidak” pada pertanyaan kedua, maka ajukan pertanyaan tambahan ini:
“Apakah saya lebih nyaman menahan perasaan hancur ini atau lebih nyaman jika melepasnya?
Jika jawabannya, “Ya, lebih nyaman.”
Maka ulangi lagi pertanyaan kedua. “Jadi maukah melepas perasaan hancur ini?”
Lalu setelah anda setuju, lanjutkan dengan pertanyaan ketiga, “Kapan?”

3. “Kapan?”
“SEKARANG!!”

Untuk contoh ilustrasinya, lebih jelasnya saya akan paparkan dari apa yang saya kutip dari tulisan Mas Goen dari web quantum ikhlas dengan sedikit modifikasi.

Terkadang dibutuhkan beberapa kali pengulangan sampai emosi negatif yang ingin kita hilangkan itu benar-benar hilang. Ada cerita seorang teman yang harus bolak-balik berulang kali bertanya pada dirinya sendiri karena tak mau juga melepas emosi negatifnya. Ketika itu dia selalu menjawab tidak dari dua pertanyaan pertama, dan ragu pada pertanyaan ketiga. Kira-kira seperti ini:

“Bisakah saya melepas hancur karena kehilangan kekasih ini?”
“Ga bisa, saya sakit hati banget.”

“Maukah saya melepas perasaan hancur karena kehilangan kekasih ini?”
“Ga mau, perasaan ini ga mau pergi!”

“Terus lebih nyaman mana, membiarkan perasaan hancur karena kehilangan kekasih ini terus atau melepasnya pergi?”
“Ya lebih nyaman melepas pergi dong, tapi susah!”

“Kalau gitu mau melepas perasaan hancur karena kehilangan kekasih ini?”
“Iya mau! Tapi susah!”

“Tapi mau kan?”
“Iya mau!”

“Kapan?”
“Ngg…ga tahu, secepatnya aja deh.”

“Secepatnya itu kapan?”
“Ya kalo bisa sekarang!”

“Jadi kamu bisa melepasnya?”
“Iya.”

“Kamu mau melepasnya?”
“Ya.”

“Kapan?”
“Sekarang!”

Dan akhirnya lepaslah emosi negatifnya.

Sebelum mencoba, satu lagi yang harus anda perhatikan adalah jika anda ingin proses pelepasan emosi dan penyembuhan dirinya lebih cepat dan mudah sebisa mungkin jawaban-jawaban yang anda berikan sebaiknya singkat, cukup katakan “iya” dan “tidak”. Artinya hindari pertentangan dan dialog, hal ini karena kadang dialog bisa cukup sengit dan akhirnya anda berfokus pada hal tersebut dan lupa bagian utamanya yaitu untuk melakukan penyembuhan diri. Disini anda yang harus mengambil alih otoritas mutlak terhadap diri, sikap, perilaku dan emosi anda. You are the Boss, jadi jika anda tidak nyaman dengan perasaan tersebut, jika perasaan tersebut sangat mengganggu dan akhirnya bisa membawa efek yang lebih buruk lagi, apapun pembelaan dan alasannya, anda yang harus memecat perasaan tersebut.

Dan mungkin untuk beberapa kasus, teknik ini harus dilakukan berulang-ulang karena tergantung pada berapa besar, seberapa dalam dan seberapa lama anda telah menyimpan perasaan tersebut. Semakin ringan kasusnya semakin cepat dan gampang melepasnya, tapi semakin berat kasusnya maka harus semakin sering pula anda melakukannya. Analoginya adalah kotoran, kalo baru kotor gampang disikatnya, tapi kalo sudah berkerak membutuhkan usaha ekstra untuk menyikat dan membersihkannya.

Selamat mencoba🙂

Posted on Maret 18, 2011, in Psikologi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: